Mengelolah Transaction Exposure

Perubahan atau fluktuasi mata uang yang tidak menentu menyebabkan ketidakpastian para pebisnis dalam melakukan transaksi luar negeri, sehingga dibutuhkan strategi yang tepat untuk dapat meminimalis exposure, bahkan jika mungkin menjadikannya sebuah keuntungan. Namun pada hakekatnya pergerakan mata uang akan membawa exposure bagi perusahaan yang melakukan perdagangan luar negeri. Dampak tersebut dapat dirasakan dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dampak jangka pendek yang akan dirasakan langsung oleh perusahaan yaitu apabila perubahan mata uang tersebut berdampak terhadap selisih nilai dari nilai yang diharapkan disaat periode pembayaran, sebagai contoh, perusahaan A melakukan transaksi dengan perusahaan B, perusahaan  A memiliki home company di Amerika, sedangkan perusahaan B memiliki home company di Eropa, kedua pihak sepakat menggunakan euro sebagai mata uang untuk transaksi mereka, mereka melakukan transaksi pada tanggal 5 April 2011 disaat harga eur/ usd 1.3361,  perusahaan A menyetujui membeli produk dari perusahaan B seharga € 1000, dan akan dilunasi pada tanggal 15 April 2011. Pada tanggal 15 April harga euro/usd 1.4489, atau euro terapresiasi terhadap dolar US sebesar 0.1128 eur/usd. Jika perusahaan A berdomisili di Eropa tentu hal tersebut tidak memiliki dampak apapun, namun apabila perusahaan A harus mentranslasi dollar US nya ke Euro pada tanggal  15 April untuk melakukan pembayaran maka perusahaan A akan mengalami selisih pembelian atau kerugian sebesar € 112,8. Apabila transaksi menggunakan US dollar,  dan harga yang ditetapkan  $ 800, maka perusahaan B akan mengalami kerugian sebesar $45,614, nilai kerugian/keuntungan yang dialami oleh perusahaan A dan perusahaan B diatas adalah eksposure jangka pendek, namun kedua belah pihak akan merasakan dampak secara langsung.

Transaction exposure jangka panjang yaitu exposure yang dirasakan oleh perusahaan ketika adanya pesaing dari negara yang berbeda, dengan keunggulan kompetitif sama masuk ke dalam pasar. Kehadiran pesaing akan menjadi ancaman apabila pesaing mampu menawarkan produk dengan harga dengan kualitas sama dengan harga murah, karena nilai tukar mata uang mereka tidak terjadi pergerakan yang signifikan sehingga menawarkan alternatif produk kepada pelanggan.

Untuk meminimalis transaction exposure ini, perusahaan –perusahaan menerapkan berbagai alternative hedging untuk melindungi nilai mereka, salah satunya dengan menggunakan produk – produk derivative, berikut akan diulas secara singkat produk –produk derivatif.

1.      Forward contract

Sebuah kontrak forward adalah perjanjian untuk memberikan jumlah tertentu dari satu mata uang dengan jumlah tertentu dari mata uang lain di masa depan (Ho Kim Wai, 1993 dalam  Vij, 2008)

Oleh karena itu, jika resiko adalah dari apresiasi mata uang, maka dapat menghedging dengan membeli mata uang ke dengan menetapkan nilai mata uang di depan. Keuntungan dari kontrak forward adalah bahwa hal itu dapat disesuaikan dengan kebutuhan spesifik perusahaan untuk memperoleh hedging yang tepat. Kerugian utama dari kontrak ini adalah bahwa mereka mengikat para pihak yang terlibat dan tidak marketable (Vij, 2008). Periode Forward yang paling umum adalah 30, 60, 90 hari dan umumnya perusahaan melakukan kontrak dengan Bank. Dalam penelitian Jeswein, Chuck dan Folks Jr. (1995), mayoritas perusahaan besar di AS masih menggunakan forward dalam melindungi nilai perusahaan mereka (hedging), dengan alasan lebih mudah pdigunakan.

2.      Future Currency

Future Currency adalah serupa dengan forward contract, forward contract memungkinkan perusahaan untuk menetapkan harga yang harus dibayar terhadap  suatu mata uang pada titik waktu di masa yang akan datang harga, namun berbeda dengan forward contract, future currency lebih fleksibel dan memungkinkan untuk di jual sebelum jatuh tempo (Papaioannou, 2006) , Namun jumlah volume futures currency lebih kecil, sehingga perusahaan lebih memilih forward contract dalam transaksi mereka (Madura, 2003). Harga kontrak future berubah dari waktu ke waktu untuk merefleksikan antisipasi pasar dari kurs spot masa depan.Jika perusahaan memegang kontrak future mata uang memutuskan sebelum tanggal penyelesaian yang tidak lagi ingin mempertahankan posisi tersebut, dapat menutup posisinya dengan menjual kontrak berjangka yang identik. Namun, hal ini, tidak bisa dilakukan dengan forward kontrak.

3.      Swap

Swap adalah perjanjian antara dua pihak setuju untuk saling bertukar satu aliran arus kas terhadap aliran lain. Swap digunakan untuk melindungi risiko tertentu seperti suku bunga, atau risiko mata uang. Jenis yang paling umum dalam swap adalah “plain vanilla” swap suku bunga. Swap Ini adalah pertukaran pinjaman suku bunga tetap dengan pinjaman tingkat bunga mengambang. Alasan untuk pertukaran ini adalah untuk mengambil manfaat dari perbedaan suku bunga di dua pasar (Vij, 2008).

4.      Option currency.

Option currency memberikan hak untuk membeli suatu valuta tertentu dengan harga tertentu (Madura 1993). Harga yang merupakan hak seseorang untuk membeli untuk valuta disebut exercise. Kelebihan option currency yaitu lebih fleksibel dalam menjual atau membeli option (tidak terbatas waktu jatuh tempo) , pemilik hanya memiliki kewajiban membayar premium. Option yang paling terstruktur adalah call vanili plain, yang didefinisikan sebagai serangan terbalik membeli dalam nilai tukar tanpa memiliki kewajiban untuk exercise (Allen, 2003 in Papaioannou, 2006).Keuntungannya termasuk kesederhanaan dalam penggunaan, biaya lebih rendah daripada future, dan diperkirakan rugi maksimum adalah premium

Dari penjabaran produk –produk derivatif diatas, perusahaan yang melakukan transaksi di luar negeri dapat meminimalis resiko dengan menggunakan produk –produk derivative, sehingga tidak mengurangi nilai perusahaan. Namun  hedging  dirasakan relativ  mahal, perusahaan pertama dapat mempertimbangkan “hedging “natural:” (Madura, 1989 dalam Papaioannou, 2006), seperti (1)matching, yang melibatkan pasangan yang sesuai arus kas masuk mata uang asing perusahaan multinasional dan arus kas keluar sehubungan dengan jumlah dan waktu; (2) netting, yang melibatkan penyelesaian konsolidasi piutang, hutang dan hutang antara anak perusahaan dari suatu perusahaan, dan (3) faktur dalam mata uang asing, yang mengurangi risiko transaksi terkait terutama untuk ekspor dan impor (Papaioannou,2006).

~ oleh daud ario pada 28/07/2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: